Project Rumah Mr. H, Pinishi Indah PIK 1

Rumah dua lantai di Pinishi Indah, PIK 1, ini memakai batu alam hampir di seluruh permukaan yang terlihat. Bukan sebagai aksen di satu dua titik, tapi sebagai bahasa utama ruangnya, mulai dari lantai foyer, dinding tangga, backdrop televisi, meja walk in closet, sampai furnitur.
Yang membuat proyek Mr. H menarik buat kami bukan luasannya, melainkan jumlah perlakuan berbeda yang harus menyatu dalam satu rumah. Ada bookmatch, ada inlay lantai, ada panel backlit, dan ada permukaan polos yang justru harus tenang supaya yang lain punya ruang bernapas.
Foyer: lantai yang menyambut lebih dulu

Lantai foyer dikerjakan sebagai satu komposisi utuh, bukan sekadar pasang ubin. Bidang tengah memakai marmer putih, dikelilingi dua garis marmer hitam yang mengikuti bentuk ruangan, lalu diisi motif bintang kecil yang dipotong satu per satu dan disisipkan ke bidang putihnya.
Pekerjaan inlay seperti ini menuntut potongan yang presisi sampai milimeter. Begitu satu garis meleset, seluruh bidang akan terlihat miring, dan itu tidak bisa diperbaiki tanpa membongkar.

Dinding bawahnya dilapis panel batu alam bernada krem dengan profil molding, sementara kusen pintu dan jendela dibungkus batu bermotif gelap. Kontras ini yang membuat lantai terangnya terasa semakin lapang.
Baca juga: Katalog marmer, 67 varian siap stok
Tangga: satu lembar yang jadi pusat perhatian

Ini bagian yang paling menuntut dari seluruh proyek. Panel dindingnya dikerjakan bookmatch, artinya dua lembar slab yang bersebelahan dibuka seperti buku sehingga uratnya bercermin di garis tengah.
Bookmatch hanya mungkin kalau kedua slab berasal dari blok yang sama dan nomor urut potongnya berdekatan. Begitu stoknya terpisah, pola itu tidak akan pernah ketemu lagi. Karena itu material untuk bidang seperti ini harus diamankan sejak awal, sebelum pekerjaan lain dimulai.

Di pangkal tangga, anak tangganya memakai batu dari keluarga motif yang sama dengan panel dinding, sementara ibu tangga dibuat dari marmer hitam polos. Lantai di sekitarnya diberi garis batas hitam yang melengkung mengikuti bentuk tangga, jadi peralihan antar area terbaca tanpa perlu sekat.
Baca juga: Kalkulator kebutuhan slab, termasuk untuk bidang bookmatch
Family room: backdrop gelap yang mengunci ruang

Backdrop televisinya memakai bookmatch bermotif gelap, dan credenza di bawahnya dipotong menyerong membentuk chevron. Dua perlakuan berbeda dari material yang sama, ditempatkan bersebelahan, tetap terbaca menyatu karena uratnya masih satu keluarga.
Dua lemari pajang di kiri dan kanan berlatar marmer hitam dengan urat putih halus. Pilihan yang disengaja: latar yang terlalu ramai akan menelan barang pajangan, latar polos justru membuat pajangan tidak punya bingkai.
Living room lantai satu: onyx yang disinari dari belakang

Partisi di tengah living room memakai onyx yang disinari dari belakang. Onyx tembus cahaya, jadi urat dan lapisan di dalamnya baru benar benar terlihat ketika lampu di belakangnya dinyalakan. Siang hari dia tampil sebagai bidang krem bermotif, malam hari berubah jadi sumber cahaya.
Pemasangan backlit menuntut ketebalan yang konsisten di seluruh bidang. Beda sedikit saja, cahayanya akan belang dan langsung terlihat. Meja tamunya memakai batu dari keluarga yang sama, dipotong bersisi banyak supaya tiap sisi menangkap cahaya dengan cara berbeda.
Baca juga: Katalog onyx, 9 varian untuk aplikasi backlit
Living room lantai dua: karakter yang dibalik

Living room di lantai dua memakai pendekatan kebalikannya. Backdropnya tetap bookmatch, tapi dengan marmer putih beruratan halus, dipadu kabinet bernada abu. Satu rumah, dua karakter, dan keduanya tetap terasa dari keluarga yang sama.
Area privat: walk in closet dan ruang rias

Island di walk in closet memakai top table batu alam dengan profil tepi, dan bidangnya dipotong untuk menampung dua sisipan kaca pajang. Potongan dalam seperti ini yang paling rawan: sisi dalamnya tetap harus rapi dan sejajar, sementara batunya sudah tidak bisa diganti kalau meleset.

Ruang riasnya dibiarkan tenang. Lantai marmer putih dengan urat tipis, kabinet putih, dan satu sofa bundar sebagai satu satunya aksen warna. Di ruang yang isinya pakaian dan perhiasan, lantai memang tidak boleh ikut berebut perhatian.
Furnitur dari sisa potongan

Dua meja tamu ini dibuat dari sisa potongan slab yang dipakai di area lain. Ini salah satu cara menekan sisa material pada proyek berskala besar: potongan yang masih utuh diarahkan jadi furnitur, bukan dibuang.
Material yang dipakai
| Material utama | Calacatta, Statuario, Magma Gold, Nero Marquina, Aurora Pink |
|---|---|
| Aplikasi | Lantai, panel dinding, anak tangga, backdrop televisi, partisi, top table, furnitur |
| Teknik | Bookmatch, inlay, backlit, potong chevron, profil tepi |
| Lokasi | Pinishi Indah, PIK 1, Jakarta Utara |
| Tahun pengerjaan | 2026 |
Merencanakan proyek serupa
Pekerjaan sebesar ini tidak dimulai dari pemilihan motif, tapi dari mengamankan stok. Bidang bookmatch, panel backlit, dan inlay lantai semuanya menuntut slab dari blok yang sama, dan blok itu tidak bisa dipesan ulang setelah habis.
Kalau Anda sedang merancang rumah dengan kebutuhan serupa, bawa denah dan referensinya ke showroom kami. Slab bisa dilihat langsung, dicocokkan pasangannya, dan dikunci sebelum pekerjaan sipil berjalan.
Baca juga: Katalog lengkap SKI Marmer, 98 varian dari enam jenis batu alam